Wednesday, November 13, 2013

Erlina #2

1381649869994538306
Image taken from : warihfirdausi.blogspot.com


Dua bulan telah berlalu semenjak pembatalan rencana pernikahan Erlina dengan Rido. Walaupun masih tersisa keping - keping kekecewaan, namun Erlina tidak mau larut dalam keterpurukan. Ia meyakinkan ke dirinya sendiri, bahwa dia adalah perempuan yang tegar. Setegar pohon kelapa yang menjulang tinggi, walaupun diterpa angin kencang, namun masih tetap kokoh berdiri. Ketegaran erlina menghadapi permasalahannya tidak lepas dari support teman - teman dan keluarganya. Apalagi sahabat karibnya. Wilsa. Wilsalah yang selalu menjadi tumpuan kesedihan, kemarahan, dan kegalauan Erlina. Pribadi yang sangat menyenangkan. Teman karib Erlina semasa kuliah dulu. Sempat terputus komunikasi, karena Wilsa melanjutkan studinya ke luar negeri. Kepulangannya ke Indonesia kali ini, selain ingin menghadiri acara pernikahan Erlina, juga untuk mengambil bahan thesisnya. Namun, hal yang tak disangka - sangka, ternyata rencana pernikahan Erlina cuma sebatas rencana.

“Er, aku tahu, ga mudah memang apa yang telah kamu alami. Tapi, yakinlah. Semua pasti ada hikmahnya. Semua memang butuh proses. Tapi proses itu juga mesti berujung pada hasil. Intinya, kamu harus cepet bangkit dari keterpurukannmu. Sibukkan dirimu dengan hal - hal yang positif. Sibukkan kamu dengan setumpuk kerjaan kamu di kantor, atau mungkin sibukkan dirimu dengan hobimu. Seinget aku waktu jaman kuliah, kamu suka dengan kegiatan - kegiatan sosial.”  Ucap wilsa berusaha bijak menyadarkan erlina sewaktu makan siang.

“I’m fine kok, Wil. I’m Oke. Kamu bisa lihat dong, aku masih bisa tersenyum kan? Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu kok, bagaimana caranya aku harus move on.” Jawab Erlina berusaha tegar.

“Halloowwww, I’m your best friend. And, I know you so well, dear. Ga usah pura - pura kamu sok tegar di hadapan aku. Kamu bisa ngebohongi orang - orang di luar sana, bahkan keluargamu. But not me, dear.” Perkataan  wilsa barusan membuat Erlina tertunduk, dan tanpa sadar, menetes air mata Erlina.

“Wallaahh, kok malah crying bombay gitu kamu. Udah ah, kita jalan aja deh, biar kamu ga jadi melow gini. Dasar cengeng lu, Er. Hahahahahhahaha” Sengaja wilsa dengan ejekan itu, biar erlina tersenyum.
***
Hampir sepanjang hari selama sebulan ini, Erlina menghabiskan waktu bersama Wilsa. Selesai pulang kerja, Erlina menemani Wilsa mengerjakan thesisnya. Weekend pun mereka selalu habiskan bersama. Saat ini hanya Wilsa tempat yang nyaman untuk Erlina bersandar melepaskan segala kesedihannya. Move on bagi erlina adalah hal yang tidak mudah dilakukan, namun dengan adanya Wilsa, paling tidak, Erlina bisa menjalani proses itu lebih cepat.

“Kamu ga pengen buka hati kamu untuk pria lain, Er? Sudah hampir 6 bulan lho, aku lihat kamu menutup diri dengan pria lain. Come on, dear. Waktu berputar, sayang. Aku liat banyak juga yang berusaha mencuri hatimu. ” Tanya Wilsa tiba - tiba.

“Malas, ah. Seandainya aja di antara pria yang mendekatiku itu, ada sosok pria kayak kamu, Wil. Hahahahahhahaha. Kamu operasi kelamin gih, terus kita kawin, hahahahhahahaha.” Jawab Erlina dengan candaan.

“Sialan kamu, Er. “

“Eiya, Er. Dua hari lagi aku mesti balik ke Jepang. Bahan - bahan untuk thesisku kayaknya sudah cukup. Sisanya tinggal aku cari di sana. Aku sudah pesen tiket. Pesawatku dari Jakarta jam 09.45 WIB. Mudah - mudahan pas aku balik lagi ke sini, aku sudah kelar studiku. “

” Yaelahh, Wil. Ga bisa kah kamu tunda balikmu ke sana? Aku masih butuh kamu di sini. ” pinta Erlina manja sambil bergelayut di lengan Wilsa.

“Ga bisa. Dan aku yakin, kondisimu sekarang better than before. Kamu bisa, Er. ” jawab Wilsa meyakinkan Erlina.
Hari keberangkatan wilsa kembali ke negeri matahari terbit itu sudah tiba. Erlina sengaja ijin dari kantornya untuk mengantarkan sahabatnya ke bandara.

“Baik - baik ya, dear. Jangan banyak nglamun terus, ntar kemasukan setan, baru nyahok kamu. ” ledek wilsa di depan pintu masuk bandara. Erlina, hanya tersenyum kecut, dengar ejekan dari wilsa.

“Aku check in dulu ya. Jangan sungkan, ngubungi aku kalau kamu butuh tempat untuk sharing. Biaya konsultasi gratissss, hahahahahha”

“Hahahahahaha, dasar. Oke deh. Take care ya. Kasih kabar kalo dah sampe Tokyo. “

Erlina menunggu wilsa sampai  Wilsa tidak terlihat punggungnya di antara penumpang - penumpang lain. Belum lama Erlina beranjak dari tempat dia berdiri, tanpa sengaja matanya tertuju ke arah taxi yang baru saja menurunkan penumpang. Dan betapa terkejutnya ia, ketika tahu penumpang yang turun dari taxi tersebut adalah RiDo. Calon mantan suaminya. Lebih terkejut lagi, ketika Erlina melihat, rido tidak keluar sendirian, melainkan dengan seseorang. Sangat mesra. Terlihat dari cara orang itu bergelayut di lengan Rido. Serasa tak percaya apa yang dia lihat, dan tidak ingin berburuk sangka, Erlina menghampiri Rido.

“Haiii, Rido. Long time no see ya. Apa kabarnya? Sapa erlina sambil melirik seseorang yang ada di sebelah Rido.

Antara kaget bercampur kikuk, Rido membalas sapaan Erlina, dan buru - buru melepas tangan orang yang bersama Rido.

“Ehh, oohh baik, Er. Kok ada di sini?” tanya rido

“Oh, aku nganterin Wilsa. Kenal kan sama Wilsa? Sahabat karibku pas jaman aku kuliah. Hari ini dia balik ke Jepang. Ooiiyyaa, kamu sendiri, mau ke mana?” masih dengan tatapan penasaran ke arah seseorang yang ada di sebelah Rido.

” Aku mau ke Singapura, ada urusan kerjaan. Ooiyyaa, sampai aku lupa ngenalin temenku. Kenalin. Ini temanku. Ketemu pas waktu di Singapura dulu. Namanya Andi. ” Tanpa canggung seperti di awal, rido memperkenalkan Andi. Andi pun dengan sikap agak  lemah gemulai mengulurkan tangan ke arah Erlina.
‘Andi.” Jawab andi singkat sambil melingkarkan kembali tanggannya ke pinggang Rido. Rido pun hanya tersenyum canggung di hadapan Erlina.

“Er, mungkin sekarang kamu paham, kenapa dulu aku membatalkan rencana pernikahan kita dan kenapa aku diusir dari keluargaku. Andi adalah jawaban atas semua itu. Aku berharap kamu bisa mengerti. ” jelas Rido tanpa panjang lebar.

Mendengar penjelasan Rido Erlina bak disambar petir di siang bolong. Entah perasaan apa yang sedang berkecamuk di dadanya. Sampai - sampai Erlina tidak sadar kalau Rido dan Andi, pasangannya sudah meninggalkannya masuk ke Bandara.
Belum sampai rasa terkejutnya Erlina selesai. Bbm dari wilsa lebih membuat erlina hampir jatuh pingsan.

Dear, maaf sebelumnya, kalau aku tdak berani berucap langsung padamu. Sudah lama aku mau mengutarakan kepadamu. Sudah semenjak waktu jaman kuliah dulu, namun aku tak punya cukup keberanian untuk itu. Aku sayang kamu, Erlina. Sayangku bukan bukanlah sayang sesama sahabat, tapi lebih ke sayang antara seorang pria ke perempuan. Namun, kondisiku tidak memngkinkan untuk itu, karena jiwaku terjebak dalam raga seorang perempuan. Itu yang membatasi aku untuk berterus terang kepadamu. Namun, aku tidak sanggup menyimpan rasa ini terus, tanpa kamu tahu. Kalaupun ada rasa jijik terhadapku setelah pengakuanku, aku bisa terima, dan itu adalah hakmu. Paling tidak. Aku merasa lega, aku bisa mengungkapkan isi hatiku. Maaf ya Er, atas pengakuanku ini. Semoga apa yang barusan aku sampikan ini, tidak akan merubah persahabatan kita. Aku tidak berharap lebih darimu untuk membalas rasa sayangku. Kamu tidak membenciku saja, aku sudah cukup bersyukur.


Sempat tidak percaya dengan apa yang dibaca Erlina. Bbm dari wilsa. Sahabat karibnya. Ternyata selama ini memendam persaan sayang, lebih dari seorang sahabat.



 Bersambung

Erlina #1

1381649869994538306
Image taken from : warihfirdausi.blogspot.com


Sakit itu begitu membekas di hati Erlina. Bagaimana tidak, harapan dan impian sudah ia gantungkan setinggi langit kepada pria pujaan hatinya, Rido. Segala persiapan pun telah matang. Undangan pernikahan pun juga sudah beredar. Fitting baju pengantin pun juga hampir selesai. Semua persiapan sudah sempurna. Wajah Erlina pun terlihat sumngringah beberapa hari menjelang pesta pernikahannya dengan Rido. Hari - hari indah akan dilewati bersama Rido, Pria pujaan hatinya batinnya saat itu. Rido adalah pelabuhan terakhir Erlina, setelah sempat mengalami jatuh bangun dalam menjaliin hubungan dengan beberapa pria. Ridolah yang sanggup membuat Erlina bangkit dari keterpurukan cinta. Performa Rido memang sempurna. Bukan tipikal orang yang mempunyai wajah tampan, namun, Rido tergolong pria kharismatik dan menarik. Hal itu yang membuat Erlina menambatkan hati dan menggantungkan segala harapan masa depan bersama Rido.  Namun, suratan takdir berkata lain. Tuhan pun tidak bersambut dengan rajutan tali kasih asmara antara Erlina dengan Rido. Tepat sehari sebelum acara akad nikah digelar, tanpa alasan yang jelas, Rido membatalkan semuanya. Yahh, Rido membatalkan rencana pernikahan mereka. Malam sebelum akad nikah digelar, Rido datang ke rumah Erlina, mengutarakan maksud pembataan pernikahan  tersebut.  Alasan yang disampaikannya pun tidak masuk akal. Belum siap dengan segala resiko yang terjadi apabila nanti sudah berumah tangga. Alasan yang menurut Erlina sangat dibuat - buat. Perasaan marah, geram, sakit, sedih campur aduk di hati Erlina.  Keluarga Erlina pun tidak terima dengan pembatalan secara sepihak dari Rido. Harga diri mereka serasa diinjak - injak oleh ulah Rido. Sempat hampir terjadi pertengkaran hebat antara Rido dan Papa Erlina.  Untungnya, hal itu bisa diredam, dan tidak sampai terjadi adu fisik antara Rido dengan papa Erlina. Setelah suasana ketegangan cukup mereda, Rido minta izin papa Erlina untuk bisa berbicara empat mata dengan Erlina.

“Maafkan aku, Er. Alasanku mungkin tidak masuk akal. Tapi memang begitulah adanya. Berat memang aku membatalkan rencana pernikahan kita, tapi aku harus melakukannya. Aku tidak bisa. Aku tidak ingin menyakiti hatimu, kelak. Suatu saat kamu pasti akan mengerti. ” jelas Rido tanpa mampu menatap Erlina. Perasaan bersalah terlihat jelas di raut muka Rido.

Erlina adalah perempuan yang tegar, sepahit apapun masalah yang merundung dalam kehidupannya, ia tidak pernah terlihat rapuh di hadapan orang - orang. Pun, ketika ia menghadapi kegagalan pernikahannya dengan Rido. Penuh ketenangan Erlina menghadapi Rido saat itu. Tidak banyak kata yang terucap oleh Erlina ketika Rido memberikan penjelasan.

“Terus terang, aku butuh penjelasan dari yang sekedar kamu utarakan tadi sama keluargaku, Mas. Maafmu mungkin tidak cukup untuk harga diri keluargaku yang sudah kamu injak - injak. Harusnya besok, kita sudah duduk di pelaminan mas, tapi kamu menghancurkan semuanya dengan alasan bodohmu itu.!!!!”  Suara Erlina mulai meninggi menahan emosi yang sedari tadi dia pendam.

“Tapi, ya sudahlah. Aku juga tidak bisa memaksakan kehendakku. Tapi, aku yakin, bukan alasan itu sebenarnya yang membuatmu membatalkan rencana pernikahan kita. Beberapa minggu menjelang pernikahan kita, aku merasakan ada hal yang aneh dalam dirimu, Mas. Tapi entah, aku pun tidak bisa mengartikannya. ” ucap Erlina penuh selidik menatap tajam ke arah Rido.

“Sekali lagi aku minta maaf, Er. Suatu saat kamu pasti mengerti alasanku. Saat ini aku belum bisa bercerita banyak kepadamu. Aku harap kamu bisa mengerti akan hal ini. Ada hal yang perlu kamu tahu. Aku sudah dicoret dari daftar keluargaku, Er. Itulah kenapa aku datang hanya seorang diri, tanpa didampingi keluargaku. Sama halnya dengan kelurgamu, keluargaku juga tidak bisa menerima keputusan mendadak yang aku ambil. Papa sama Mamaku sudah tidak mau lagi menganggap aku anak. Aku sudah diusir dari rumah tiga hari lalu, Er. ” penjelasan Rido barusan membuat Erlina kaget, dan sedikit merasa iba. Namun, hal itu tidak dengan mudah menghilangkan sakit hati  Erlina.  Erlina butuh waktu untuk memulihkan kestabilan emosinya.

“Aku masih sayang padamu, Er. Terserah, kamu mengartikan apa ucapan aku barusan. Yang jelas, rasa sayang itu masih aku simpan rapi dalam hatiku. Suatu saat nanti, entah kapan, kamu akan tahu dan mengerti kenapa aku membatalkan rencana pernikahan kita. ” Ucap Rido, sebelum pamit dan beranjak pergi dari rumah Erlina.
Tidak bergeming sedikitpun Erlina dengan ucapan terakhir Rido. Erlina hanya menatap nanar kearah Rido, dan membiarakannya pergi tanpa sepatah kata pun.

“Sikapmu terlihat aneh beberapa minggu terakhir ini, Mas. Semenjak kepulanganmu dari Singapura, kamu terlihat beda. Bukan seperti Rido yang aku kenal sebelumnya.” Gumam Erlina kepada dirinya sendiri, sepeninggal Rido dari rumahnya.



Bersambung 

Tuesday, November 5, 2013

Jogja Kota 1001 Angkringan

Jogjakarta,  kota dengan penuh artistik. Kota budaya, kota yang tidak pernah mati akan kreatifitas para penghuninya. Kota dengan segala macam cerita di dalamnya yang begitu sangat menarik untuk diulas dan diperbincangkan. 



Jogja. Siapa yang tidak tahu tentang kota Jogja. Saya yakin bahwa semua kompasianer pasti tahu tentang kota  Jogja, paling tidak sudah pernah  mendengar namanya. Saya yakin sekali Jogja bukan merupakan sesuatu yang asing lagi di telinga Anda. 



Di sini, saya hanya ingin berbagi pengalaman sejenak  tentang keindahan kota jogja dan kekhasan kota jogja yang jelas sesuai versi saya, secara saya pernah mencicip sedikit ilmu selama 4 tahun di kota dengan image malioboronya.



google.com
google.com


Jogja menawarkan begitu banyak objek wisata  lengkap dengan  kulinernya. Namun, yang mau saya  tonjolkan di sini adalah keunikan Jogja dengan bertebarannya tempat kuliner murah meriah mantab ala mahasiswa di saat krisis melanda dan sangat terjangkau oleh kondisi kantong anda. Ya….. ANGKRINGAN DENGAN NASI KUCINGNYA!!!!!!!!!















google.com
google.com








Dengan kondisi keuangan anda yang cekak, anda tidak usah kebingungan kalau tengah malam kelaparan. Segera langakahkan kaki anda menuju angkringan terdekat, dijamin rasa lapar hilang seketika, kantong masih dalam kondisi aman, dan nikmatnya tidak kalah dengan restoran bintang lima. Hahahahhahaha………. 



Dengan modal Cuma Rp. 5.000,00 anda bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa. Dengan suasana sederhana, di pinggir jalan, lampu remang - remang, ditambah guyonan dari sang penjual, menambah kepuasan menikmati santapan nasi kucingnya. Tidak heran kalau bisnis angkringan begitu merajalela di kota ini. Selain konsep makanannya sangat bervariasi dengan harga yang terjangkau , sekarang ini banyak sekali angkringan - angkringan di Jogja dikonsep untuk dijadikan semacam tempat tongkrongan. Jadi, tidak hanya Cuma sekedar jual nasi kucing, bandrek dan mendoan, namun sekarang lebih bervariasi dalam hal makanannya. Pun juga dalam hal minumannya.  Tidak mengherankan dengan konsep seperti itu, menambah  ramainya setiap angkringan di Jogja, dan semakin menjamurnya bisnis angkringan di kota pelajar ini. Tidak salah juga kalo saya menyebut Jogja dengan sebutan KOTA 1001 ANGKRINGAN.





google.com
google.com



Jadi, kalau mampir ke Jogja jangan sampai  tidak mampir ke salah satu angkringan yang ada. Nyesellll dechhh….



Sumber gambar dari Mbah GOOGLE YANG BERGOYANG.........


Wednesday, September 25, 2013

Friends Forever

Jarum jam seolah tidak mengerti maksud akan hatiku…
Berputar dan terus berputar meninggalkan masa itu.
Arrgggg Waktu…
Entah apa yang harus aku lakukan dengan Waktu…
Guliran-guliran rasa dengan salur-salur kenangan…
Ada saatnya aku hanya musafir yang terpesona dengan kuncup-kuncup peristiwa dalam gulatan sang waktu…
Ingin kupeluk masa itu…
Erat… erat.. dan semakin erat… 

*****

Oh.. Sang Pencipta waktu, ijinkan sejenak aku hentikan putaran jarum jam itu….
Biarkan rasa ini menikmati indahnya kenangan itu !!!
*****

Saat jauh raga ini dari semua sentuh-sentuh sahabat kekasih jiwaku…
Saat senyum kalian selalu luruhkan Kristal-kristal bening di pelupuk mataku…
Saat rindu menjadi sesuatu yang sangat perih pada eja hariku…
*****

Saat itulah aku merasa seperti musafir bodoh!!
Mengapa dulu aku tak puaskan raga ini sentuh senyum lembut kalian
Mengapa dulu tak puaskan kedua tangan ini untuk peluk bahu-bahu kalian….

*****

Kebodohan yang timbul karena desakan rindu!!
Rindu yang paksakan perihnya karena salur-salur cinta dalam dada ini!!
Aku ingin teriakkan pada langit-langit kamar!!
Aku rindu kalian!!
Aku cinta pada setiap moment yang sudah kita lewati…
Sungguh!!
Raga kita boleh menjadi jejak dalam titik kenang
Tapi jiwa ini…. Jiwa ini akan selalu peluk kalian…
Satu…. Satu… maknai peluk jiwa dengan untaian doa lewat bait-bait cinta.
*****

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Ahhh itu semua pasti terjadi dalam setiap perjalanan hidup kita. Namun bukan berarti berpisah membuat kita tidak bisa menyapa satu sama lain. Berpisah fisik namun bukan berarti berpisah hati. Kebersamaan yang terjalin akan selalu terkenang dan terpatri dalam hati. 
Baru sebulan kemarin aku melangkahkan kaki meninggalkan kalian, sahabat. Seolah masih terngiang canda dan tawa kita di kala senggang. Ingin rasanya punya mesin waktu untuk kembali ke masa itu. Ah.... beruntungnya aku, mendapatkan kalian sebagai sahabat-sahabatku. Adik bungsu... Yah sebutan yang paling pas buat aku diantara kalian. Sahabat bukan hanya sekedar sahabat. Sahabat yang kadang kala bisa menjadi keluarga. Banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang bisa kuambil dari kebersamaan kita. Yahhh.... Semua tinggal kenangan. Berat memang yang kurasa. Namun, semua adalah proses hidup yang mesti dijalani. Perpisahan, bukan berarti berpisah untuk selamanya. Semua akan menjadi cerita dan kenangan yang indah. Jejak ini akan terekam indah dalam memori yang paling dalam. 

Sahabat…
Cinta ini ada dan selalu akan ada di dalam dada. 






Para Mafia UGM.. :)




Perpisahan duyuuu..... :)








Tim solid CSR MHP








 Thanks a lot big Papa

Thanks buat kenang-kenangannya... :)



Dedicated to : 
• Pak TavivPak Taufan, Abah, Mas Erwin Doenuvan Thanks a lot atas kesabaran dalam memberikan bimbingan selama kurang lebih lima tahun di PT. MHP.

• Cece Maya Thanks buat pesan terakhirnya, seneng plus sedih bacanya… hiks…
“Event short, but it was really wonderful to have someone like you, you as my friend, young sister or even daughter??? As your “taichie” or “okasan” I like you always be yourself, and chase your dreams and make them come true while you have time.” Sukses ya sayang “ ( Cece Maya)
• Mbak SariMbak EenMbak MurniMbak Reni, Mbak ika, Jely..…. Heemmm Great friends. Thanks for the pure friendship.


• Pak John, Big Papa… Big thanks and big hug for you.. thanks for all. Thanks that you have spent your free time for while just for teaching me English… I hope I can improve my English better than before….

Tuesday, September 24, 2013

Jahanam! Aku perempuan pembunuh…!!!!!!!!




Image taken from  liauprut.wordpress.com






By :




Panggil saja aku Dara,  aku mengenal Rey dari salah seorang sahabat. Parasnya yang manis dan berbadan tegap membuatku jatuh cinta, sejak saat itu pandangan demi pandangan mengalir deras dari pelipis mata kami. Setelah satu bulan kami intens berkomunikasi lewat sms dan telpon, awal bulan kedua Rey mengungkapkan isi hatinya kepadaku. Entah seperti dibius berpuluh jarum suntik akupun tak menolaknya dan malam itu menjadi malam yang sempurna bagiku.



Suatu malam di bukit ilalang kami menghabiskan senja dibalik rerimbunan rumput liar, entah malam itu Rey merayuku dengan alunan suaranya yang membuatku tak berdaya.  Aku tidak tahu bagaimana mulanya. Kudengar napas Rey di telingaku. Entah kekuatan apa yang dia punya, malam itu aku hanya bisa diam, saat kecupnya jelajahi leherku, aku hanya mampu tergetar dan makin memeluknya. Aku menikmati setiap sentuhan-sentuhannya. Jantungku tersentak dan berdenyut kencang, Jari jemarinya perlahan menyentuh setiap jengkal daerah erotisku. tubuhku tersentak oleh denyut jantungku sendiri. Aku terkikis dalam setiap lumatannya. Tuhan malam itu aku serahkan mahkota suciku untuknya.

Aku bukan lagi dara yg lugu, yang selalu bergelanyut manja di lengan bunda. Aku bukan lagi Dara putri bunda yang selalu manja dipangkuannya. Aaahhhhh.. malam itu babak baru dalam kisah ku!
Penyesalanku mengikuti setiap hariku.  God, apa yang sudah aku lakukan?? Dimana Rey sekarang?? Setelah malam itu Rey menghilang. Semua nomer Hand phone yg aku punya tak bisa dihubungi, aku tanyakan ke semua temannya, satupun tak ada yang tahu dimana lelaki itu.
Hatiku hancur, aku hanya bisa managisi kebodohanku, aku terjebak dalam labirin yang aku ciptakan sendiri. Sekarang harus bagaimana?? Menangis dipangkuan bunda untuk hal ini?? Jelas tak mungkin! Terbayang wajah kecewa bunda jika aku ceritakan semua ini. Tidak! Aku takut!

Tuhan…

Aku gelisah, biasanya awal bulan saatnya aku mendapat mentruasiku. Tapi sudah dua minggu beranjak tanda-tandanya pun tak ada!
Bagaimana aku akan mengatakan hal ini jika saja benar ada benih tumbuh dirahimku.
Entah malam ini hatiku bergejolak, beribu pertanyaan hinggap. Akupun berlari menuju apotek dekat rumah untuk membeli test pack, aku HAMIL !! aku HAMIL !! itu kenyataan yg harus aku terima. AKU HAMIL DAN REY RAIB ENTAH DI BELAHAN BUMI SEBELAH MANA LAKI-LAKI ITU SEKARANG BERPIJAK.!

Awal proses aku menjadi seorang PEMBUNUH !
Entah, rasa berdosaku pada bunda, rasa penyesalanku telah menghancurkan hatinya membuatku taat melakukan apa yang bunda mau. Bunda memang lembut, tapi bunda selalu membatu saat jiwanya menyentuh ranah lelaki. Rasa kecewa terhadap  ayah, membuatnya menjagaku ketat dari dunia adam. Dia tak ingin aku alami luka yang sama, hanya itu alasannya.

Aku bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Ingin kuadukan kepada Bunda, menceritakan semuanya, namun aku tidak sanggup untuk melakukannya. Aku tak sanggup menyakiti hati Bunda. Aku tak sanggup membunuh harapan – harapan Bunda terhadapku. Aku tak sanggup melihat linangan air matanya. Oh Tuhan. Aku tak sanggup. Namun, aku lebih tak sanggup lagi kalau aku menghadapi kenyataan ini sendirian.
Dengan perasaan campur aduk, antara takut, sedih dan bimbang, aku memberanikan diri untuk menceritakan semuanya kepada Bunda. Air mata bunda tak terbendung lagi. Aku tak sanggup lagi meneruskan ceritaku, namun Bunda menguatkan aku untuk menyelesaikannya. Dengan terbata bata aku ungkap semua dengan sempurna. Aku lihat Bunda terkulai lemas. Aku menyesal. Benar – benar menyesal, batinku saat itu.
Suasana sempat hening sejenak, sampai Bunda memintaku menggugurkan janin yang sekarang ada di perutku.   Oh Tuhan, benarkah Bunda memintaku  menjadi  PEMBUNUH????


Berbagai perasaan aneh hinggap dalam hatiku waktu aku menginjakkan kaki di ruangan itu. Ruangan yang nantinya akan menjadi tempat eksekusi bagi janinku. Aku datang bersama Bunda. Nampak sekali wajah cemasnya.


Mbah Surti nama dukun itu, mengajakku aku  masuk ke dalam ruang  yang hanya diterangi sebuah lampu minyak kecil. Bau anyir yang tercium dari dalam ruangan itu semakin membuatku merinding dan takut.
Mbah surti memintaku  minum ramuan yang sudah dipersiapkannya. Ramuan itu mempunyai bau yang aneh.  Mual sekali perutku saat aku harus meneguknya. selang beberapa saat, aku merasakan sakit yang luar biasa dalam perutku. Sakit seperti ditusuk – tusuk pisau. Aku mengerang kesakitan. Bunda menangis melihatku kesakitan seperti itu. Makin lama sakit yang kurasakan semakin menjadi, Mbah surti menghampiriku  memegang perutku perlahan, mengurutnya, perlahan lahan. Semakin lama urutan di perutku semakin kuat dan lebih kuat. Aku mengerang kesakitan. Duh, Gusti sakiiiitt… Teramat sangat sakit. Aku mengeluarkan banyak darah, tapi belum selesai mbah surti mengurut perutku. Tidak lama kemudian Mbah Surti memasukkan 3 batang pohon singkong, ke dalam vaginaku. Oh Tuhan. Siksaan apa lagi ini, batinku saat itu. Dengan leluasanya mbah surti memainkan alat eksekusinya ke dalam vaginaku, menembus sampai mengoyak isi rahimku. Sakit yang aku rasakan sudah tidak dapat aku gambarkan lagi. Darah yang keluar kali ini disertai dengan gumpalan daging. Darah yang keluar dari vaginaku semakin banyak. Tidak cukup sampai di situ saja mbak surti menyiksaku. Setelah dia mengeluarkan alat dari vaginaku, mbah surti kembali mengurut perut bagian bawah. Urutan pada perutku kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mengerang. Tenagaku sudah terkuras habis. Sakit yang kurasakan sudah diambang batas toleransi. Sayup  masih terdengar suara isak tangis Bunda. Namun, semakin lama suara itu semakin menghilang. 



Aku tidak medengar suara apapun!Senyap.. sangat senyap., tubuhku ringan tanpa rasa! Sakit? Dimana kesakitanku?? . Aku lihat Bunda  duduk di sampingku  menangis mengguncang – ngguncang tubuhku, mbah surti  membereskan peralatan yang dipakai dalam pengeksekusian janinku,  aku  melihat darah dan gumpalan daging yang masih segar. Oh Tuhan, aku seorang pembunuh!! .Sesal, sedih dan marah berkecamuk dalam dadaku. Namun  Semua sudah terlambat! Sangat terlambat! Aku telah menjadi jasad.  Ragaku telah berselimut Kafan







[FiksiHoror] Aura Mistis Rumah Ki Dalang




Image taken from www.layoutsparks.com



Tidak seperti biasanya, suasana di Desa Rangkat akhir-akhir ini begitu mencekam. Apalagi pada malam Jumat Kliwon seperti malam ini. Dari selepas maghrib tadi sampai menjelang tengah malam, lolongan anjing terus terdengar saling bersahut - sahutan. Lolongan yang lebih mirip dengan lolongan Serigala. Belum lagi aroma kemenyan yang semerbak dimana-mana, makin membuat bulu kudu merinding.

Pos ronda pun yang biasanya selalu diramaikan oleh guyonan dan penuh ejekan dari bujang - bujang Desa Rangkat juga terlihat sepi. Hanya terlihat mas Hans dan Dorma yang sedang asyik bermain catur.
Aku sendiri baru pulang lembur dari Kantor Desa. Ketika melewati rumah Ki Dalang Edi Siswoyo, aku merasakan sesuatu yang aneh. Ada bau kemenyan yang sangat menyengat ketika aku melintasi rumahnya. Juga suara - suara aneh yang terdengar dari dalam rumahnya. Tanpa menoleh, aku langsung bergegas menjauh dari rumah Ki Dalang.

Sewaktu melewati pos ronda, aku menghampiri mas Hans dan Dorma yang sedang asyik bermain catur.
“Mas Hanssssssss…….mas Hansss..mas Hansss……,” panggilku gemetar.
“Acik, kamu kenapa sih…? Kayak orang habis melihat hantu aja…… Ada apa sih…?? Kamu habis lihat hantu di mana…?” tanya mas Hans ikutan panik.
“Kalian merasa aneh nggak sih, dari mulai selepas maghrib tadi sampai sekarang ini……? Ada yang aneh kayaknya di desa ini,” jelasku pada mereka dengan pandangan ketakutan.
Sambil saling berpandangan, Dorma dan mas Hans mengangguk bersamaan.
“Iya… bener, Cik. Sejak tadi aku mencium bau Kemenyan terus, sampai - sampai aku merinding. Mana lolongan anjing nggak mau berhenti lagi, lebih mirip lolongan serigala,” sahut mas Hans.
“Terus semakin malam bau Kemenyan itu semakin menyengat. Hidddiiiiiiiiiiiiiihhhh…… takuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttttttt…… ” sahut Dorma sambil menggirdikkan tubuhnya pertanda dia juga mersakan hal yang sama.
Suasana hening sejenak. Kami bertiga semakin ketakutan. Bau kemenyan semakin menyengat, diselingi lolongan anjing yang semakin menakutkan. Kami saling berpandangan, dan tanpa dikomando serentak kami menyebut satu nama dengan berbisik.
“Ki Dalang Edi Siswoyo……!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

******************************************************************************

Beberapa hari terakhir ini memang santer terdengar kabar, bahwa Ki Dalang Edi Siswoyo menunjukkan gelagat yang aneh. Hampir tiap malam Jumat, dari rumahnya selalu tercium bau Kemenyan. Juga seringkali terdengar suara-suara aneh dari dalam rumahnya. Dan keesokan harinya, selalu saja ada warga Desa Rangkat yang kesurupan.

Tiba-tiba  mas  Hans menunjuk kearah rumah Ki Dalang Edi Siswoyo sambil berteriak kencang.
“Hantuuuuuuuuuuuuuuu…………!!”


Aku menoleh mengikuti arah telunjuk mas Hans. Sesosok bayangan putih mendekat kearah kami. Tenggorokanku tercekat, hingga tidak bisa berkata apa-apa. Tanganku berusaha menggapai pundak mas Hans. Tapi ternyata mas Hans sudah lari tunggang langgang sambil menggendong Dorma dibelakangnya. Pentungan mereka terjatuh di tanah. Tinggal aku sendiri yang berdiri mematung dalam ketakutan.
Aku hanya bisa memejamkan mataku dalam kepasrahan. Kucoba mengingat semua doa-doa yang aku hafal. Tapi mungkin karena terlalu ketakutan, doa-doa yang ku lafadzkan terucap tidak beraturan. Aku merasakan bau yang sangat anyir dan amis menusuk hidungku. Bau mayatkah ini?
Aku berusaha berteriak dengan sisa-sisa tenagaku. Tapi susah sekali rasanya mengeluarkan suara dari tenggorokanku. Hingga akhirnya……

“Toloooooooooong…… Jangan ganggu…… akk…… akkuuuuu………,” akhirnya suaraku keluar juga.
Tapi kenapa ada mbak Asih, kakak perempuanku dihadapanku? Disebelahnya juga ada mas Erwin si bocah ingusan, suaminya mbak Asih.
“Acik……, bangun sayang. Kamu mimpi buruk, yah……?” tanya mbak Asih sambil memelukku.
“Makanya jangan kebanyakan nonton film Mak Lampir……” sambung mas Erwin sambil keluar kamarku, meninggalkan kami berdua.

Akupun sadar bahwa aku tadi hanyalah mimpi belaka.

“Tapi tadi mimpinya terasa nyata sekali, mbak. Aku mencium bau amis dan anyir,” kataku pada mbak Asih.
Mbak Asih tersenyum geli sambil menyahut.
“Itu bau amis dan anyir berasal dari bajunya mas Erwin. Kakak iparmu itu dari tadi sibuk memilih-milih Kepiting Soka. Pagi ini Kepitingnya mau dikirim ke kota”.
Kulirik jam dinding dikamarku, pukul satu dini hari.
“Sana ambil wudhu, terus sholat malam biar tidurmu tenang. Mbak mau bikinkan kopi buat Hansip yang jaga,” kata mbak Asih seraya meninggalkanku.
“Iya, mbak. Ntar biar aku aja deh yang nganterin kopi ke pos Hansip,” sahutku seraya ikutan keluar kamar untuk berwudhu dan melaksanakan sholat malam.

Dua teko kuletakkan di atas nampan. Satu teko berisi kopi hitam untuk mas Hans. Dan satu teko lagi berisi cokelat panas untuk Dorma. Tak lupa sepiring martabak telor ku persiapkan. Di pintu depan aku bertemu mas Erwin yang masih sibuk memilih-milih Kepiting Soka.
Jarak rumahku dengan pos Hansip sangatlah dekat. Bahkan saking dekatnya suara Dorma yang mengunyah kuwaci kadang-kadang bisa kedengaran dari kamarku. Di pos Hansip kulihat pasangan Hansip itu sedang asyik main catur. Meskipun cuma berduaan, tapi suaranya sangat berisik.
Tak ada keanehan dan keganjilan. Aku salut pada kedua Hansip yang selalu bergadang ini. Apalagi pada Dorma si Hansip cewek yang pemberani ini. Mereka enjoy dengan tugas pengamanannya. Tak ada raut ketakutan di roman muka mereka, meskipun harus melewatkan malam diluar rumah. Karena memang tak ada yang perlu ditakuti. Apalagi di tengah-tengah desa Rangkat yang tentram ini.
Namun, masih terekam jelas di benakku mimpiku barusan yang seolah - olah nyata. Awalnya aku merasa yakin, kalau memang ada keganjilan di rumah Ki Dalang Edi Siswoyo. Suara - suara lolongan itu masih terngiang jelas di telingaku. Masih dengan penuh penasaran, aku membulatkan tekadku untuk mengendap - endap ke rumah Ki Dalang Edi Siswoyo setelah aku mengantarkan minuman dan makanan untuk Mas Hans dan Dorma. Dengan dibekali sisa - sisa keberanianku, akhirnya sampai juga aku ke rumah Ki Dalang Siswoyo. Aura penuh kemistisan sudah terlihat dari jarak 10 langkah ke rumahnya. Aku merasakan merinding yang teramat sangat begitu kakiku semakin mendekati kediamannya. Bau anyir campur kemenyan semakin lama semakin tajam, ditambah lagi aku melihat ada kepulan asap keluar dari rumah Ki Dalang. Rasa penasaranku semakin menjadi - jadi. Kuberanikan diri mengintip lewat jendela. Apa yang kulihat benar - benar membuat persendianku lemas seketika. Dalam penglihatanku yang Cuma dibantu oleh sinarnya bulan purnama, terlihat Ki Dalang sedang melakukan ritual yang aku sendiri tidak bisa menggambarkannya dengan jelas. Aku hanya bisa melihat asap menari - nari seoalah - olah mengikuti alunan mantra dari Ki Dalang. Terdapat juga sebuah cawan yang berisikan air berwarna agak gelap, aku manafsirkannya seperti darah kental segar. Aneka macam kembang juga melengkapi ritual yang dilakukan Ki Dalang. Sesekali kulihat mulutnya komat - komit sambil meminum air yang ada dalam cawan tersebut, kemudian Ki Dalang menyemburkannya dengan sekuat tenaga. Setiap kali Ki dalang menyembur terhadap sosok yang tidak terlihat di depannya, terdengar suara rintihan yang begitu membuat telingaku berdenging kesakitan. Entah apa yang dilakukan Ki Dalang sebenarnya, aku masih belum bisa mendapatkan jawabannya. Ingin hati menceritakan semua yang barusan aku lihat kepada mas hans dan dorma, tapi aku urungkan niatku seketika itu juga.

Tanpa kusadari dari tadi, ternyata ada bayangan di balik pohon besar yang ada di samping rumah Ki Dalang. Bayangan hitam seperti orang sedang memakai jubah warna hitam, besar dan tinggi. Semakin lama, bayangan itu mendekati memasuki rumah Ki Dalang. Bebarengan dengan itu, sahutan lolongan anjing menambah suasana mistis rumah Ki Dalang Edi Siswoyo.

Kolaborasi Malam Jumat di Pos Ronda


Kolaborasi :

Jalan Keabadian

By : Aciek
No : 37
“Semuanya sudah sempurna, Prita. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi niat suci kita. Kita tinggal nunggu tepat tengah malam nanti di saat posisi bulan sabit. Perfecto!!!!! Aku tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Kamu, aku akan abadi selamanya dalam ikatan suci. “

Sunyi senyap di kamar Prita, hanya terdengan bunyi dentingan jam di kamar Prita  yang berhenti pada hitungan sebelas , menunjukkan waktu Prita tinggal satu jam lagi untuk bersiap - siap menuju tempat yang sudah diinstruksikan oleh Bob tiga jam yang lalu. Tempat di mana Prita dan Bob akan mewujudkan janji suci mereka. Yahh…. Bob sudah mempersiapkan semuanya, tepat di tanggal 13 tengah malam saat posisi bulan sabit, mereka akan menuju suatu tempat keabadian menurut imajinasi mereka.
Di tempat yang sudah ditentukan oleh Bob sebelumnya, terlihat Bob dengan balutan busana setelan jas putih bersih, di bawah cahaya lilin yang remang - remang terlihat begitu gagah. Aura magic begitu terasa kental ketika memasuki ruangan tersebut. Di setiap sudut ruangan terdapat rangkaian bunga melati yang dikelilingi dengan lilin berjumlah 13 buah. Wangi semerbak memenuhi ruangan, namun bukan wangi seperti bunga melati pada umumnya melainkan wangi bercampur aroma amis dari darah  yang telah dipersiapkan oleh Bob dalam cawan - cawan perak. Sambil menunggu kedatangan Prita, Bob mengintip di balik tirai jendela, melihat bulan sabit di angkasa dengan senyuman penuh kemenangan. Tidak selang berapa lama, terdengar bunyi langkah kaki mendekati ruangan.

Perlahan pintu terbuka. MuncuL sesosok wanita anggun dengan gaun indah berwarna putih senada dengan setelan baju yang dikenakan Bob. Yah…,Prita, wanita yang sudah sejam yang lalu ditunggu - tunggu oleh Bob, untuk melabuhkan cintanya.

” Mendekatlah, sayang. Semua sudah aku persiapkan untuk perjalanan kita. Waktu kita Cuma tinggal 15 menit untuk menjadikan cinta kita sempurna.” Ucap Bob, sambil menggiring Prita ke depan altar.

Tanpa ragu sedikitpun, Prita mengikuti apa yang barusan diperintahkan oleh Bob.
Di depan altar, Bob memberikan cawan yang berisi darah kepada Prita. Di dalam ruangan yang hanya bersinarkan 13 lilin, Bob membisikkan sesuatu ke Prita.

” Sayang, cinta kita indah, cinta kita suci, namun semua tidak bisa kita satukan dalam dunia nyata, karena jurang keyakinan kita yang memisahkan. Hanya dengan cara seperti ini, semoga cinta kita akan tetap abadi selamanya. Kamu tau apa yang ada di dalam cawan yang kamu pegang??? Itu adalah darah yang aku ambil dari 13 wanita yang masih perawan. Hal ini kulakukan, karena merupakan syarat agar kita bisa kekal abadi di alam sana dalam balutan cinta kita yang suci. Prita, waktu kita tidak banyak, segera kita selesaikan ritual kita. ” jelas Bob sebelum melakukan ritual.

Tanpa membuang waktu lagi, segera Prita meminum cawan berisi darah 13 perawan, berikut diikuti dengan Bob. Setelah selesai dengan ritual tersebut, mereka saling berpelukan, dan saling menusuk perut mereka dengan pisau, sebagai tanda akhir dari ritual mereka. Mereka pun mati dalam pelukan bersimbah darah. Wujud dari kesempurnaan cinta mereka yang tidak bisa terjalin dalam dunia nyata.