Showing posts with label cermin. Show all posts
Showing posts with label cermin. Show all posts

Wednesday, November 13, 2013

Point Akad Nikah

“Arinaaaaaaa….!!!!!!!!! suara cempreng Rika membuyarkan seketika lamunan indahku di siang bolong yang panas.

“ Wooiii cuyyyy, manggilnya ga pake teriak – teriak, ga bisa apa? Dah kayak setan kesurupuan aja kamu neh
manggil orang. Ga tau apa, aku lagi berkhayal indah. Dah hampir aja pangeran impianku ngejemput aku, dalam
khayalanku…. ehhhh, teriakanmu bikin pangeranku berubah jadi setan kesurupan. Kampret, Lo.!!!!!” Dengan nada
kesal campur geram, kuomeli Rika.

“Hehehehehehhe…. sorry sorry deh, mangaapppp, Cuinn.” Balas Rika dengan wajah tak berdosanya.

Tanpa mempersilahkan masuk, Rika sudah nyelonong masuk ke dalam rumah. Rika adalah sahabat karibku.
Suka, duka, dan apapun yang menjadi kegalauannya, selalu muara curhatnya ke aku. Kami memang jarang
bertemu, namun intens komunikasi lewat bbm. Kebetulan Rika main ke tempetku, karena dia sengaja ambil cuti
kerja untuk menghadiri acara akad nikah teman deketnya di kantor. Mau mengejar ponit akad nikah, itu yang jadi
alasan, kenapa dia mau bela – belain datang dari Semarang ke Jogjakarta, hanya untuk menghadiri akad nikah
temannya itu. Alasan yang bisa aku terima dengan nalarku. Tapi itulah salah satu keunikan sahabatku, selalu
percaya pada mitos, yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Yahh, namanya juga mitos, bisa percaya
bisa juga ngga, tergantung kepercayaan masing – masing.

“Kok sepi, Rin ? Ibumu ke mana? “ tanya Rika setelah sadar kalo rumahku kosong, tidak ada orang. Cuma
tinggal aku saja.

“Ibu ke tempat kakakku yang di Bandung, kangen cucunya katanya. “ Jawabku singkat

“Baca bbmu semalam, kamu mau ngadirin acara akad nikah temen kantormu? Di masjid kampus UGM? Besok?

Aku ga janji bisa nemenin kamu lho, ya. Aku mau manfaatin hari libur buat ngeboo seharian di rumah, mumpung
 Ibuku ga di rumah, hahahahahaha. “ ucapku sebelum Rika mengutarakan maksud dan keinginannya.

“ Ya elah, kamu neh, kamu ga mau apa ngejar point akad nikah yang aku ceritain di bbm semalam? Percaya
ga percaya sih, Cuiinn. Tapi ga ada salahnya kan dicoba. Aku dah ngantongin 5 point neh, hehehehehhe.
Harapanku, tahun ini cuinnt, bisa segera nyusul mereka – mereka yang dah aku datangi akad nikahnya. Dah
bosenn tauuu, kesana ke sini ditanyain mulu, Rika, kapan kawinnnnnn. “ jelas  Rika penuh semangat
Masih dengan topik yang sama, Rika mengulang cerita yang di bbm semalam, tentang keberhasilan temennya
mengantongi point akad nikah.

“Kamu masih ingetkan cerita di bbmku semalam. Temenku tuh seumuran kita ini lah, anak bungsu. Tinggal dia
aja yang belum nikah di keluarganya. You know lah, kalo hidup di kampung tuh, banyak yang nyinyir kalo
seumuran kita tuh belom laku – laku. Nah, temenku tuh dibilangin sama ibunya, suruh sering datang ke acara
akad nikah temen - temennya. Yahh, siapa tau cepet ketularan. Terus, saking semangatnya temenku mau
mengkahiri masa lajangnya, dia turutin apa omongan ibunya itu. Anddd, setelah dia ngantongin 5 point akad
nikah, selang 2 mingguan, mantannya datang terus ngajak merit, cuiiinn. Amazingggg kan???” Terlihat binar
semangat di mata Rika sewaktu menceritakan keberhasilan point akad nikah temennya.

“Ayolah, cuintaku Arin, temenin aku besok yak. Daripada kamu ngebo seharian di rumah, mending ikut aku
besok ke acara akad nikah temenku. Yahhh, kamu ga mesti percaya deh, sama hal-hal  yang gituan. Ehh, siapa
tau lho, besok kamu tiba-tiba ketemu pangeran impian kamu, who knows kan? Hahahahahaha” Goda Rika
sambil nglempar bantal ke arahku.

Bujuk rayu Rika menggoyahkan keinginanku untuk bermalas-malasan di rumah besok. Akhirnya aku
memutuskan untuk menemaninya datang ke acara akad nikah temennya itu. 

***
Acara akad nikah dimulai pukul 08.00 WIB. Kami datang terlambat hampir 1/2 jam. Gara-gara miss lebay bin
miss drama queen si Rika,  rempong ma dandanannya. Tapi untungnya, masih ada beberapa orang yang
datang terlambat setelah kami.

Tanpa sengaja aku menginjak kaki orang di sebelahku sewaktu aku mau duduk. Subhanallah, Allah begitu
sempurna menciptakan kaum adam yang ada di sebelahku. Batinku saat itu ketika melihat cowok yang aku injak
kakinya.

“ Aduuhhh, mas. Maaf ya, ga sengaja nginjak kakinya.” Ucapku

“ Oh, ga apa kok, Mbak.” Jawab cowok itu singkat.

Bahasa tubuhku terlihat jelas, bahwa aku kurang nyaman duduk bersebelahan dengan cowok yang aku injak
tadi. Kurang nyaman, karena aku merasakan ada sesuatu yang entah, aku sendiri tidak bisa mengartikannya.
***

“ Arinnnn!!!!!!!! Selamat ya… busyettt dah. Ga nyangka neh, ternyata kamu duluan yang melepas masa lajang.
Masih seminggu lagi kan, akad nikahnya? Semoga akad nikahmu ini menjadi point akad nikah terakhir ku ya,
hahahahahahahahhaha.” Suara rika terdengar nyaring di telingaku, ketika aku menelpon dia memberitahukan
perihal pernikahanku.

Sepintas aku memandangi undangan pernikahanku, sambil tersenyum sendiri serasa tidak percaya atas
keajaiban dan kekuasaan Tuhan. Antara percaya dan tidak percaya. Seandainya aku tidak ikut menemani Rika
menghadiri acara akad nikah temannya 3 bulan yang lalu, mungkin sekarang aku masih sibuk mencari belahan
jiwaku. Afri namanya. Calon suamiku. Cowok yang tidak sengaja aku injak kakinya di acara akad nikah
temennya Rika. Antara percaya dan tidak percaya dengan mitos point akad nikah. Namun yang aku percaya
adalah bahwa Jodoh itu tidak bisa ditebak, dan datangnya kadang dengan jalan yang tidak kita duga. Masalah
cerita kebenaran point akad nikah temannya Rika, menurut aku adalah hal yang kebetulan saja. Buktinya, aku
baru sekali menghadiri akad nikah, bisa langsung mendapatkan jodoh. Aku pun tersenyum geli, teringat betapa
semangatnya dan tidak patah arang  Rika mengejar pointya  akad nikah, walaupun sampai sekarang dia belum
juga menemukan separuh jiwanya.

Tuesday, September 24, 2013

Ketika Berada dalam Persimpangan


Image : llmii.wordpress.com



“ Banyak orang bilang, Hidup adalah ujian, berani untuk memilih dan mengambil resiko. Memilih untuk bahagia, menderita semua adalah pilihan. Bad or good, who knows. Semuanya adalah Pilihan”.


Cantik, pintar cerdas dan bersahaja. Tidak ada kurang suatu apapun pada dirinya. Orang bilang sempurna. Namun, siapa sangka dalam kesempurnaannya sebagai wanita, ada hal yang begitu membuat dirinya menderita. Hal yang begitu menakutkan dan membuat Risa semakin tenggelam dalam kesedihannya lebih dari dua tahun terakhir ini. Yah.. kurang lebih dua tahun terakhir ini kesibukan Risa semakin padat. Tidak hanya sibuk oleh dunia kerjanya melainkan kesibukan Risa harus hilir mudik ke Rumah Sakit seminggu tiga kali. Hal yang terakhir inilah yang membuat Risa kehilangan semangat hidup. Ibarat tanaman, tumbuh subur namun tak lagi berbunga.


“ Sudahlah, nak. Apa lagi yang kamu cari di sana??? Kami di sini kesepian, kami di sini selalu khawatir dengan keaadaanmu di sana. Kami di sini selalu risau tiap kali tidak ada kabar darimu, walaupun kami yakin kamu baik – baik saja di sana, pulanglah dengan segera, Nak. Uang masih bisa kamu cari di sini, di dekat kami. “ ujar ibu Risa waktu itu.
Masih terngiang jelas ucapan ibu Risa setahun yang lalu, ketika berkali – kali Ibunya meminta untuk pulang kembali ke rumah, untuk menemani hari tua ayah dan Ibu Risa. Harapan orang tua, tentunya menginginkan anak bungsunya tinggal tidak jauh dari rumah, begitupun juga dengan orang tua Risa. Namun, ada hal lain yang membuat Risa selalu menolak untuk pulang ke rumah dua tahun belakangan ini. Ucapan dan tangisan Ibu Risa seolah tidak menggunggah sedikitpun hatinya untuk pulang kembali ke rumah.


“ Bu, bukannya Risa ngga mau pulang ke rumah, nemenin Ibu sama Ayah di kampung, tapi Risa masih ingin ngejar karir Risa. Kalau Risa sukses jadi orang di perantauan, bukankah Ayah sama Ibu juga nantinya bangga sama Risa? Percayalah sama Risa”


Tidak terasa dua tahun telah berlalu semenjak permintaan kedua orang tua Risa untuk pulang kampung lewat telepon. Semenjak hari itu, tidak pernah lagi orangtua Risa mengungkit – ungkit kepulangannya ke kampung.

“Bukannya aku ngga mau pulang ke kampung, bukan. Bukan pula karena alasan karir, aku bertahan di sini, di bumi perantauanku ini. Bukan itu, Bu, alasan utamaku. Aku ngga mau kalian tau kalau sudah lebih dari dua tahun ini tubuhku digerogoti tumor, dan selama itu pula aku intens dengan perawatan. Aku ngga mau ayah dan ibu sedih melihat keadaanku. Anak bungsumu yang dulu cantik, lincah, segar, penuh senyum sekarang sudah layu, Bu. Aku tidak tega Ibu dan Ayah melihat keadaanku sekarang. Maafkan aku, kalau aku membohongi kalian.” Gumam Risa sambil terisak tangis mengingat percakapan dengan orang tuanya dua tahun silam.
Belum selesai Risa bergelut dengan kesedihannya, tiba – tiba Risa mendapatkan kabar dari kampung yang memintanya untuk segera pulang. Ayah risa yang memang dalam beberapa hari terakhir ini kondisi kesehatannya menurun, tiba – tiba kena serangan jantung. Di saat yang sama Risa harus segera menjalani operasi pengangkatan tumor payudara tiga jam setelah mendapat kabar tersebut.


Bagaikan di persimpangan jalan, Risa bergelut dengan gejola hatinya. Menunggu keajaiban dari Tuhan dengan harapan Risa mampu melewati semuanya dengan sempurna???? Hanya Tuhan yang tahu jawabannya.


“Hidup adalah ujian, berani untuk memilih dan mengambil resiko.”